Detail Artikel

Tanggal Post : 2019-06-12

PELAJARAN DARI TIDORE (Titipan Untuk Generasi)

Tags:


Oleh : Nur Sangadji
muhdrezas@yahoo.com

Idul Fitri 1440 Hijrah, saya mendapat kesempatan menjadi khatib di tanah kelahiran, kampung Mareku di Tidore. Dalam catatan Belanda, disebut mareco, Tidore. Mereka telah meng-order gawean ini tiga bulan sebelumnya. Saya bersyukur karena, dengan itu, saya punya dorongan moral yang kuat untuk pulang, mengunjungi kampung halaman. Diksi terakhir ini menjadi agenda tiga tahunan bernama RARO GAM (kunjungi kampung). Dan, tahun ini adalah tahun yang ke tiga tersebut.

Di bumi para Sultan ini, saya mengenang Sultan Nuku (bergelar, Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma'bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan) yang dengan gagah perkasa membela kehormatan negeri hingga ajal menjemput. Beliau menunjukan keberanian, kegigihan tanpa rasa minder dan jiwa pengecut (inferior/inlander) berhadapan dengan kaum penjajah.

Ketika, disampaikan oleh anak buahnya, tentang resiko berhadapan dengan dua bangsa sekaligus, Belanda dan Inggeris. Nuku menjawab, BETA TARA FARDULI (saya tidak perduli). Sebuah sikap kesatria yang patut diteladani generasi, saat membela kebenaran dan harga diri bangsa.

Sebelumnya, saya membaca ulang kegigihan yang sama dari Sultan Babullah yang memimpin pasukan Ternate menggempur Portugis yang lari tunggang langgang hingga ke Timor Timur. Kemarahan Babullah mencuat membela kehormatan negeri dan keluarga. Ayahandanya, Sultan Khairun dibunuh dengan cara curang dan tidak beradab. Begitulah teladan kepatriotan yang menggelora menembus batas generasi.

***
Sekira tahun 1996, saya menyaksikan Dubes kita di Paris diwawancarai TV Perancis. Pewawancara menyoal tentang Papua yang katanya totalitas berbeda. Mengapa harus dipaksakan menjadi Indonesia ? Dubes Wiryono berargumen bahwa yang berbeda di Indonesia itu bukan hanya Papua. Kami semua berbeda (Nous some tous different). "Anda ke Manado akan
temui orang berperawakan mirip jepang atau cina. Begitu juga, ke daerah yang lain,ada kekhasan tertentu". Tapi, kami punya
semboyan "bhineka tunggal ika".

Di KBRI Paris kala itu, saya bicara dalam satu pertemuan perhimpunan pelajar Indonesia (PPI) Perancis. Saya bilang, ada satu hal penting yang tidak sempat diungkap Dubes kita, yaitu keniscayaan histori. Bahwa, sejak dahulu kala, Papua adalah wilayah syah Kesultanan Tidore. Jadi, kalau Tidore itu Indonesia maka Papua juga adalah Indonesia. Ini premis mutlak dalam kaidah ilmu pengatahuan. Alasan yang lebih beradab dibanding PBB yang menetapkan NKRI yang sekarang, berbasis negeri bekas jajahan.

Di negeri Papua ini juga, Kesultanan Tidore yang beragama Islam memfasilitasi dua zending asal Jerman untuk menyiarkan Agama Kristen di wilayah kesultanannya. Sebelumnya, misionaris terdahulu mendapat kesulitan bahkan menemui ajalnya di sini. Sebuah bukti tentang toleransi yang sangat agung dari moyang kita.

***
Dan sekarang, kita diramaikan dengan wacana pemindahan Ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan. Sesuatu yang sudah lama sekali direncanakan sejak zaman Soekarno. Lalu, semua Orang mencari apologi pada negara yang lain. New York ke Washington di America Serikat, Amsterdam ke Den haaq di Belanda dan Melbourne ke Canbera di Australia, sebagai contoh.

Tapi saya menyela, mengapa susah-susah mencari contoh yang jauh. Pergilah ke Tidore dan periksa lembaran sejarah kesultanannya. Kita akan temukan bagaimana Ibu kota negara (kesultanan) dipindahkan secara periodik dari satu tempat ke tempat lain. Pastilah dengan alasan teknis, filosofis dan sociocultural yang sangat agung. Hingga kini, tempat Ibu kota yang terakhir bernama Soasiu.

Di soasiu inilah kemudian, tahun 1956, ditetapkan sebagai Ibu kota Irian Barat. Itu, ketika negeri ini menjadi wilayah sengketa Indonesia dan Belanda. Saya bertanya, mengapa Soasiu ? Saya lalu menjawab sendiri. A priori, karena secara historis, yuridis dan defakto, Irian barat atau Papua itu adalah Tidore. Dan itu juga berarti, adalah Indonesia.

Sayang, pengetahuan ini kian kabur dan terlupakan dalam memori generasi. Bahkan, di Moluku kieraha sendiri. Karena itu, negeri ini tumbuh nyaris tidak dikenal. Kalaupun dikenal, dipandang tertinggal atau terkebelakang. Padahal, kalau tidak dipindahkan ke Batavia, di sinilah pusat pemerintahan sejak dahulu. Itulah sebabnya, sekarang harus bangkit kembali. Agar berarti lagi bagi Indonesia. Semoga.