Detail Artikel

Tanggal Post : 2019-05-22

Puisi dan Lagu untuk Negeri

Tags:

Oleh Muhd. Nur Sangadji

Terbit di Palu Ekspress (22 Mei 2019)

 

Saya menangkap getar getirnya perasaan anak negeri ini pasca pemilu 2019. Karena itu saya angkat menjadi soal ujian, mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. Saya hanya ingin tahu perasaan mereka seperti apa dan apa yang seharusnya. Saya lalu mengingat lagi kegiatan ku sebelum ramadhan.

Kala itu, anak anak sanggar seni mahasiswa Pitate Faperta UNTAD menggelar Agriculture Day. Isinya, diskusi dan pertunjukan seni. Acara sore dan malam itu dirangkai dengan peringatan hari pendidikan nasional. Sebagai pembina, saya diminta bicara tentang Pertanian, seni dan kebudayaan. Juga, melantunkan puisi dan lagu.

Saya memilihnya dua puisi dari Rendra dan Filusuf Inggeris. Puisi Rendra ini telah saya hafal sejak tahun 1996. Kala itu, saya memandu Renda dalam satu ceramah kebudayaan di hadapan warga Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di kota Lyon Prancis.

Puisinya sangat singkat tapi dalam sekali maknanya. Ini bait bait puisinya : “Aku mendengar suara, Jeritan mahluk yang terluka. Ada Orang memanah rembulan. Ada anak burung jatuh dari sarangnya. Orang orang harus dibangunkan. Kesaksian harus diberikan. Agar kehidupan terjaga”.

Puisi ini ditulis Rendra dari kegelisahan beliau terhadap situasi saat itu. Ada penderitaan dari kezaliman yang diproduksi. Tapi semua diam membisu. Takut atau masa bodoh. Beliau mendorong kesadaran warga untuk bangkit dan beri kesaksian. Itulah caranya kita menjaga kehidupan. Kata beliau.

Tapi, penulis puisi dari inggeris mengajak dengan contoh untuk lahir warga negara cerdas. Dia menggores pusinya : “I have a dream, to change the world. But, it is difficult. So I change my dream to change my county. But it is not easy. So I change again my dream to change my region. But, still difficult. So I change my dream to change my family. But, again, it is not easy. Finally, I change my dream to change my self. And probably, by changing my self, I can change my family, my region, my county and I can change the world”.

Filusuf inggeris ini ingin bilang kepada kita bahwa segalanya mulai dari diri sendiri. Ambisi kita untuk merubah banyak hal, tidaklah mengapa. Tapi tentu, sangatlah sulit. Namun, menjadi mudah, justru ketika kita mau memulainya dari diri sendiri. Kita, dengan demikian, harus tampil menjadi teladan.


Sesudah puisi, saya ingin nyanyi beberapa lagu termasuk lagu tentang Bung Hata. Tapi tidak cukup waktu. Meski begitu, saya ingin sekali menulis. Saya hafal karena pernah menyanyikannya pada 17 Agustus 1995 di konsulat Indonesia, kota Marseille, dekat Monaco.

Ini syairnya :”Tuhan, terlalu cepat semua. Kau ambil satu satunya yang tersisa. Proklamator tercinta. Lugu, jujur dan sederhana. Mengerti apa yang tersimpan dalam jiwa. Rakyat Indonesia”.

“Hujan air mata dari pelosok negeri. Saat melepas engkau pergi. Berjuta kepala tertunduk haru. Teringat nama seorang sahabat., yang tak lepas dari nama mu. Bernisan bangga, berkafan doa,,dari kami yang merindukan orang seperti mu”.

**
Lagu ini dikarang oleh Iwan Fals. Seperti Rendra, Iwan juga melawan dengan seni. Negeri seperti kehilangan pegangan. Tidak lahir, figur teladan yang berani dan rela. Semua ingin ambil apa yang bisa di raih. Semua merasa pantas memimpin. Semua ingin berkuasa.

Dan, Bung Hata memberi contoh. Ketika banyak orang bangkit merebut kekuasaan itu dengan semua cara. Dia, Bung Hata, justru melepasnya. Untuk sebuah Prinsip yang ditegakannya. Langka. Dan, kita rindu, ada lagi saat ini. Sayang, tidak terlihat. Wallahua’lam.